Bisa Masuk UI Semakin Menjadi Nyata

Bisa diterima dan berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Indonesia memang menjadi mimpi aku sejak lama. Aku ingin sekali bisa menyandang gelar anak UI saat aku sudah lulus SMA nanti. Tapi tentu saja ini bukan hal yang mudah ya. Butuh banyak usaha untuk bisa masuk ke kampus impian tersebut.

Kedua orangtuaku adalah lulusan dari Universitas Indonesia. Ayahku dari ilmu politik dan ibuku dari psikologi. Tidak hanya itu, kedua kakakku juga merupakan lulusan dari UI juga. Jadi, aku harus masuk UI juga dong. Ini juga menjadi beban buat aku, karena aku benar-benar harus bisa diterima masuk UI saat lulus SMA nanti.

Tentu saja ini bukan niat semata, tapi keinginan ini menjadi tekad dalamn diriku untuk bisa berkuliah di UI. Ada begitu banyak bimbel yang menawarkan dan menjanjikan untuk bisa 100% diterima di UI. Bimbel masuk UI menjadi pilihan aku untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian penerimaan UI. Bimbel masuk UI yang aku pilih adalah bimbel online Ruangguru. Aku percaya dengan Ruangguru bisa mengantarkan aku ke gerbang UI.

Bimbel online Ruangguru yang aku pilih ini telah melewati beberapa pertimbangan dan akhirnya mantap menjadi pilihanku. Untuk banyak alasan aku pilih bimbel online Ruangguru ini. Misalnya sebagai berikut:

  1. Belajar di Ruangguru itu menyenangkan. Belajarnya dengan video belajar yang dikemas dengan animasi dan penjelasan yang sangat mudah dimengerti. Belajar jadi terasa tidak belajar. Bisa berjam-jam belajar tanpa rasa kantuk yang menyerangku seperti aku belajar secara konvensional dengan membaca buku materi.
  2. Belajar di Ruangguru itu mudah mengerti. Aku bisa mudah menangkap materi pelajaran dengan sekali penjelasan. Memang penjelasan ini dibuat oleh master teacher yang sudah sangat berpengalaman dan memiliki jam terbang tinggi dalam mengajar.
  3. Belajar di Ruangguru itu bisa mengerjakan ribuan latihan soal. Aku sering banget menguji pemahaman aku akan materi yang baru aku pelajari dengan mengerjakan latihan soal secara bertingkat. Mulai dari yang mudah sampai ke tingkat yang sulit. Kalo aku udah bisa menyelesaikan tingkat yang sulit, itu berarti aku udah menguasai materi tersebut dengan baik.
  4. Belajar di Ruangguru itu hemat waktu. Aku bisa belajar dan mengerjakan soal latihan dimana pun dan kapan pun aku suka. Waktu yang biasa digunakan untuk menempuh perjalanan ke tempat bimbel, bisa aku hemat untuk waktu istirahat atau nambahin waktu belajarku.

Harga belajar di bimbel online Ruangguru juga sangat murah jika dibandingkan dengan bimbel lain. Aku bahkan bisa membayar uang langganannya sendiri dengan uang saku yang aku punya. Nahh.. makanya buat kamu yang lagi nyari bimbel masuk UI, ini bisa kamu jadiin pilihan teratas untul dipertimbangkan.

Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

Gara-gara laporan Beban Kinerja Dosen (BKD), Saya kadang berharap bisa membuat buku secara rutin. Minimal satu buku per tahun, syukur-syukur per semester. Harapan yang tidak terlalu muluk, walau tidak mudah digapai, setidaknya perlu “strategi mencuri” waktu dan memilih cara penerbitan yang relatif mudah dan cepat.

Target membuat buku tidak bisa dicapai dengan cara mendadak. Rasanya menulis buku tidak bisa dengan gaya: “kebut semalam”, atau dengan cara: “mengasingkan diri berhari-hari”. Tugas lain dan godaan “ngerumpi”, bahkan siaran langsung sepakbola pun bisa menjadi halangan.

Keterbatasan waktu – atau mungkin rasa malas juga – menyebabkan “proyek membuat buku” ini harus dicicil. Perlahan-lahan. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya modus seperti ini menjadi pilihannya. Dan media yang digunakannya adalah blog pribadi, baik yang disediakan kampus atau di luar kampus.

Ya, postingan di blog bisa menjadi bahan buku jika sudah terakumulasi dalam beberapa seri tulisan tematik. Maksudnya, beragam kategori postingan bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku yang pernah disusun dengan modal “ngeblog” adalah “Electronic Banking”, “Manajemen Dana Bank”, “Banking on The Blog”, dan “New Economy: Ekonomi Era Informasi”.

Buku-buku tersebut lebih banyak diterbitkan di kampus. Hanya satu buku yang diterbitkan di penerbit luar. Menerbitkan buku di institusi sendiri menjadi opsi mudah. Namun tetap saja harus disunting dan membuat disain cover sendiri, atau setidaknya merepotkan teman-teman. Belum pengurusan ISBN-nya. Mengurus sendiri pun perlu waktu. Setidaknya, kita coba variasi cara penerbitan buku.

Akhirnya, sekedar untuk menambah pengalaman, Saya mencoba menerbitkan buku dengan cara: Self-Publishing. Cara ini relatif memberikan kemudahan – minimal bagi Saya –, di antaranya adalah:

Disain Cover dibuatkan oleh Penerbit Indy, setelah kita menyetujui disainnya
Pengurusan ISBN
Penyuntingan naskah oleh penerbit, walau tetap diupayakan dari naskah daro kitanya sudah relatif siap cetak
Bantuan promosi, walau kita bisa bantu juga melalui jejaring sosial atau pertemanan
Proses komunikasi dengan penerbit mudah dan cepat
Bisa memperoleh beberapa eksemplar bukunya
“Tidak ada makan siang gratis”. Demikian pula dengan Self-Publishing. Kita harus mengeluarkan biaya, yang berkisar dari ratusan ribu sampai satu juta rupiah. Tidak mengapa mengeluarkan anggaran sebesar itu per tahun. Toh, bisa disisihkan dari sebagian penghasilan kita, termasuk dari tunjangan sertifikasi dosen. Jika rajin mempromosikannya, siapa tahu nilai royaltinya bisa membuat investasinya bisa “balik modal”.

Bagi saya, soal royalti bukan utama. Kalau toh ada royaltinya, ya patut disyukuri juga 🙂 Saat melihat fisik buku dengan nama kita tercantum jadi penulis pun sudah memberikan kepuasan tersendiri. Bahkan, tak jarang buku tersebut dijadikan hadiah atau kado buat teman-teman.