Self-Publishing, Cara Mudah Menerbitkan Buku

Gara-gara laporan Beban Kinerja Dosen (BKD), Saya kadang berharap bisa membuat buku secara rutin. Minimal satu buku per tahun, syukur-syukur per semester. Harapan yang tidak terlalu muluk, walau tidak mudah digapai, setidaknya perlu “strategi mencuri” waktu dan memilih cara penerbitan yang relatif mudah dan cepat.

Target membuat buku tidak bisa dicapai dengan cara mendadak. Rasanya menulis buku tidak bisa dengan gaya: “kebut semalam”, atau dengan cara: “mengasingkan diri berhari-hari”. Tugas lain dan godaan “ngerumpi”, bahkan siaran langsung sepakbola pun bisa menjadi halangan.

Keterbatasan waktu – atau mungkin rasa malas juga – menyebabkan “proyek membuat buku” ini harus dicicil. Perlahan-lahan. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Akhirnya modus seperti ini menjadi pilihannya. Dan media yang digunakannya adalah blog pribadi, baik yang disediakan kampus atau di luar kampus.

Ya, postingan di blog bisa menjadi bahan buku jika sudah terakumulasi dalam beberapa seri tulisan tematik. Maksudnya, beragam kategori postingan bisa kita kumpulkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku yang pernah disusun dengan modal “ngeblog” adalah “Electronic Banking”, “Manajemen Dana Bank”, “Banking on The Blog”, dan “New Economy: Ekonomi Era Informasi”.

Buku-buku tersebut lebih banyak diterbitkan di kampus. Hanya satu buku yang diterbitkan di penerbit luar. Menerbitkan buku di institusi sendiri menjadi opsi mudah. Namun tetap saja harus disunting dan membuat disain cover sendiri, atau setidaknya merepotkan teman-teman. Belum pengurusan ISBN-nya. Mengurus sendiri pun perlu waktu. Setidaknya, kita coba variasi cara penerbitan buku.

Akhirnya, sekedar untuk menambah pengalaman, Saya mencoba menerbitkan buku dengan cara: Self-Publishing. Cara ini relatif memberikan kemudahan – minimal bagi Saya –, di antaranya adalah:

Disain Cover dibuatkan oleh Penerbit Indy, setelah kita menyetujui disainnya
Pengurusan ISBN
Penyuntingan naskah oleh penerbit, walau tetap diupayakan dari naskah daro kitanya sudah relatif siap cetak
Bantuan promosi, walau kita bisa bantu juga melalui jejaring sosial atau pertemanan
Proses komunikasi dengan penerbit mudah dan cepat
Bisa memperoleh beberapa eksemplar bukunya
“Tidak ada makan siang gratis”. Demikian pula dengan Self-Publishing. Kita harus mengeluarkan biaya, yang berkisar dari ratusan ribu sampai satu juta rupiah. Tidak mengapa mengeluarkan anggaran sebesar itu per tahun. Toh, bisa disisihkan dari sebagian penghasilan kita, termasuk dari tunjangan sertifikasi dosen. Jika rajin mempromosikannya, siapa tahu nilai royaltinya bisa membuat investasinya bisa “balik modal”.

Bagi saya, soal royalti bukan utama. Kalau toh ada royaltinya, ya patut disyukuri juga 🙂 Saat melihat fisik buku dengan nama kita tercantum jadi penulis pun sudah memberikan kepuasan tersendiri. Bahkan, tak jarang buku tersebut dijadikan hadiah atau kado buat teman-teman.

GoJek Akui Kehabisan Uang gara-gara Tarif Murah

Perusahaan ride sharing Gojek kini sedang berdiskusi dengan calon investor baru. Mereka mengaku membutuhkan tambahan dana, seiring dengan besarnya subsidi yang dikeluarkan untuk membuat tarif tetap murah.

Saat ini, Gojek memiliki armada sekitar 200.000 orang pengemudi ojek. Perusahaan tersebut bersaing keras dengan Grab dan Uber demi menguasai pangsa pasar di Indonesia.

Kendati demikian, Gojek tak bisa terus-terusan “membakar” uang alias memberi subsidi agar tarif mereka bisa murah.

“Kalau terus begitu (memberi subsidi), akhirnya Anda akan kehabisan uang,” ujar pendiri sekaligus CEO Gojek Nadiem Makarim, Senin (2/5/2016).

Pria lulusan Harvard Business School itu menambahkan, salah satu solusi masalah tersebut adalah mencari dana tambahan dari para investor. Setelah mendapatkannya, dia akan memakai dana itu untuk mengembangkan lini bisnis.

Saat ini, menurut Nadiem, sudah ada sejumlah perusahaan modal ventura dan perusahaan investasi yang menaruh minat. Perusahaan-perusahaan tersebut tertarik pada Gojek karena ukuran dan potensi yang dimilikinya.

Nadiem tak mengungkap perusahaan mana saja yang kini sedang berdiskusi membicarakan investasi baru itu.

Sekadar diketahui, kehadiran Gojek dan layanan transportasi berbasis aplikasi lain memicu banyak kontroversi. Bahkan pada Maret lalu ribuan pengemudi taksi melakukan unjuk rasa dan meminta sebagian dari aplikasi ride sharing ditutup.

Namun sebesar-besarnya unjuk rasa tersebut tak akan membuat Nadiem sakit kepala. Setidaknya, fokus pemikiran pendiri Gojek itu bukan pada masalah tersebut.

“Buat saya, masalah dan tantangan terbesar saat ini adalah menghitung skala hal ini. Hal yang paling sulit adalah soal teknologi, sebab pemikiran mengenai teknologi-lah yang membuat saya jadi susah tidur,” pungkasnya.